Hari ini Jumat 10Maret2017 mau kasih Cerita Mistis akan memperkenalkan satu tempat wisata yang
cukup menarik untuk kalian ketahui. Dan siapa tahu di antara pembaca ada
yang cukup beruntung untuk bisa berkunjung ke situ. Biasanya pembaca,saya kasih cerita tentang kehidupan diriku dalam bentuk Bahasa Inggris. Kali ini saya ingin sajikan cerita misteri yang saya alami dalam hidup saya. Saya
ingin memperkenalkan:
Katakombe Odessa.
Katakombe Odessa ini adalah jalur bawah tanah, yang penuh dengan
belokan dan jalan bercabang. Area ini sedemikian luasnya, sehingga
diperkirakan panjang gua ini kurang lebih 2.500 KM. Kalau kalian tidak
memiliki gambaran sepanjang apa 2.500KM, maka pulau Jawa bisa jadi
patokan yang cocok. Panjang pulau Jawa adalah 1.000 KM. Jadi jika ingin
menelusuri seluruh jalur Katakombe Odessa, itu bagaikan kamu jalan kaki
bolak balik Jawa (lalu lanjut jalan separuh Jawa lagi).
Jalur ini konon ada 3 tingkat. Tidak ada tangga jadi naik tingkat
kemungkinan adalah memanjat tembok atau bebatuan. Turun tingkat berarti
masuk ke lubang yang ada di bawah.
Sebagian area bawah tanah sebetulnya sudah terbentuk semenjak tahun
1600, lalu di tahun 1800 menjadi lebih besar lagi menjadi labirin. Pada
zaman Perang Dunia II, di sini digunakan oleh para pejuang sebagai
tempat sembunyi dan gerilya. Setelah perang usai, tempat ini digunakan
oleh penyelundup untuk memasok barang. Di estimasi, ada sekitar 1000
pintu keluar masuk katakombe. Sebagian berada di area pribadi
masyarakat, sebagian lagi di tempat antah berantah. Satu-satunya area
katakombe yang boleh dikunjungi turis secara resmi ada di
Museum of Partisan Glory. Dan itupun hanya diperbolehkan berjalan sejauh 1KM saja.
Namun tidak sedikit ada penantang yang mengikuti tur ilegal untuk
melihat-lihat. Biasanya banyak penjelajah lokal yang menawarkan jasa tur
secara ilegal untuk melihat-lihat.
Pada tahun 1960an, sekelompok penjelajah pemberani mencoba menjajaki
tempat itu dan membuat peta kasar. Kurang lebih, tampilan petanya
seperti ini :
Di tahun 1995, ekspedisi lain kembali mencoba menelusuri. Namun bahkan
kelompok itu juga tidak mampu menelusuri seluruh area. Jadi tidak ada
seorang pun yang pernah mengunjungi keseluruhan jalur. Daerah yang
sangat luas, penuh rintangan, ancaman gua ambruk membuat tempat itu
sangat berbahaya. Jadi adalah tidak mengherankan jika ketika eksplorasi,
kamu bisa menemukan mayat atau tulang.
Meninggal di dalam Katakombe Odessa mungkin merupakan salah satu cara
mati yang sangat mengenaskan. Dan inilah yang terjadi pada gadis malang
bernama Masha.
Masha di tahun 2005 bersama teman-temannya merayakan tahun baru.
Entah siapa yang mengajukan ide, semua sepakat untuk masuk ke katakombe
Odessa ini untuk eksplorasi. Saat itu semuanya masih dalam keadaan
pengaruh alkohol di pesta sebelumnya. Termasuk Masha. Setelah senter
semuanya lengkap, maka petualangan pun di mulai.
Mereka dengan santai berjalan melewati tembok-tembok yang
dicorat-coret simbol dan grafiti. Tempat di sana sangat sunyi. Hanya
suara langkah kaki menemani mereka. Setelah sekian waktu, mereka pun
semuanya keluar. Sebab terlalu berbahaya berjalan masuk dan sembarang
berputar. Apalagi adalah kalau ada batu di langit-langit yang jatuh dan
memakan korban. Mereka pun pulang dan mungkin membayangkan cerita
seperti apa yang akan disampaikan ke keluarga atau teman lain mengenai
pengalaman menarik yang baru saja mereka lakukan. Tetapi mereka
melupakan satu orang.
Masha masih di dalam.
Kita tidak akan pernah tahu apa yang dialami oleh Masha di dalam. Tetapi kita mungkin bisa mengira-ngiranya.
Masha sadar hanya tinggal dia sendirian di dalam. Panik, dia berlari
sambil memegang erat senternya berlari balik ke arah yang menurutnya
pintu masuk. Dia meneriaki nama-nama temannya. Hanya suara gaung yang
menyahutnya kembali. Tidak ada suara lain lagi.
Pengaruh alkohol saat ini sudah mulai hilang. Diganti dengan adrenalin yang mengalir membuat degup jantungnya berdebar kencang.
Dia mencoba mengingat-ingat jalan yang dia lalui barusan. Dia merasa
dia datang dari belokan mana, maka dia ambil belokan situ. Dia berjalan
dua jam, tiga jam. Kakinya mulai pegal. Napasnya terengah-engah. Tidak
ada tanda-tanda pintu keluar.
Dia merasakan kerongkongannya kering. Dia tidak membawa minuman. Dia
tidak membawa makanan. Seharusnya tur ke terowongan ini hanya sebentar
saja. Dia berjalan terus menerus. Mungkin teman-teman yang akan
menyadari dia tertinggal, dan sebentar lagi bantuan akan datang. Mungkin
seperti itu pikirnya.
Setelah 12 jam terperangkap, lampu senternya sudah mulai meredup. Dia
memukul-mukul lampu senter yang mulai lemah itu agar tetap kuat
menyinari arahnya. Kurang lebih 20 jam semenjak dia di dalam terowongan
itu, senternya mati. Mati total. Dalam sekejap seluruh gua itu gelap
gulita. Hitam. Pekat.
Masha tidak bisa melihat apapun walaupun dia mencoba menyesuaikan
pandangannya. Dia memejamkan mata lalu membuka. Apa yang dilihatnya
hanya hitam total. Karena bagaimanapun juga, tidak ada cahaya sama
sekali yang masuk ke terowongan ini. Dia panik. Dia sudah terlalu lemah.
Beberapa hari di dalam terowongan, Masha hanya tergeletak di dalam
kegelapan. Dia mengalami dehidrasi hebat. Perutnya kosong. Tidak ada
tanda-tanda ada orang yang akan datang. Kalaupun ada, apakah mereka bisa
menemuinya di dalam labirin ini? Bayangan masa kecilnya, wajah orang
tuanya, temannya mulai melintasi benaknya….
Mungkin seperti itulah akhir Masha. Pada tahun 2005, sekelompok
penjelajah terowongan menemukan jenazah perempuan muda. Mereka tidak
bisa membawanya keluar, karena posisi jenazah ini 5KM dari pintu masuk
terdekat. Tanpa logistik dan persiapan yang sesuai, adalah mustahil
mengeluarkannya. Bahkan polisi pun tidak berani masuk, jika tidak
dibantu pemandu di situ. Baru pada tahun 2007, jenazah itu berhasil
dikeluarkan dan dimakamkan dengan layak.